Buah mangga merupakan salah satu komoditas andalan sektor pertanian. Berbagai jenis buah mangga ditanam di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya adalah mangga gadung.
Mangga jenis ini banyak ditanam di wilayah kediri, Jawa Timur. Salah satu sentra perkebunan mangga di Pasuruan terdapat di Kecamatan Rembang, dengan luas areal kebun mangga sekitar 750 hektar.
Jenis mangga yang ditanam disini adalah mangga gadung 21, yang sudah terkenal kemana-mana. Keistimewaan mangga jenis ini, ukuran buahnya besar, dan rasanya sangat manis, sehingga terasa segar bila dimakan.
Salah satu lokasi perkebunan mangga di Kecamatan tarokan terdapat di Desa tarokan. Dari Kota kediri dapat dicapai selama satu jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Perkebunan mangga disini dikelola oleh Kelompok Petani tarokan yang dipimpin oleh Pak msugiono dan Pak Santoso, dengan luas areal kebun mencapai 50 hektar. Saat sedang musim panen seperti sekarang, para petani disini setiap hari sibuk memanen buah mangga.
Sebelum ditanami mangga, Desa tarokanini termasuk daerah tertinggal. Lahan disini termasuk jenis tadah hujan. Saat musim kemarau tanah disini retak-retak sehingga tidak cocok ditanami berbagai jenis tanaman pertanian. Namun, justru di tanah seperti inilah, mangga gadung 21 sangat cocok ditanam. Buah yang dihasilkan lebih manis dibanding mangga jenis lain.
Bibit mangga gadung 21 diperoleh dengan cara disteak dan ditanam di dalam polibeg. Hanya bibit yang berkualitas bagus saja yang ditumbuh kembangkan di dalam green house.
Setelah pohon tumbuh besar, pemeliharaan wajib dilakukan. Pucuk cabang pohon harus rajin dipangkas, sehingga jumlah buah dapat dijaga tidak terlalu banyak.
Tingkat produktivitas pohon mangga disini cukup tinggi. Untuk satu hektar lahan dapat ditanam sekitar 140 pohon, dengan jarak tanam 6 kali 7 meter.
Setiap pohon yang telah berusia diatas sepuluh tahun dapat menghasilkan buah mangga sebanyak satu kwintal.
Karena ditanam di tanah kering, buah mangga gadung hasil perkebunan rakyat disini sangat manis. Untuk membuktikan kemanisan rasa mangga gadung ini, Pak Slamet memotong buah mangga untuk saya nikmati.
Salah satu kendala yang dihadapi petani mangga disini adalah serangan hama lalat buah. Untuk mengatasinya dilakukan penyemprotan sesuai takaran yang diperkenankan. Selain itu juga dibuat perangkap lalat buah.
Pemetikan buah mangga dilakukan dengan cara memanjat pohon. Buah mangga yang telah matang dipetik dan dimasukkan kedalam kantong.
Buah yang telah dipetik lalu dibawa ke tempat pengumpulan. Disini buah mangga dikumpulkan sebelum dikirim ke pasaran.
Untuk pasaran ekspor, buah mangga pilihan di masukkan ke dalam kemasan kertas karton. sehingga kualitas buah tetap terjamin hingga tiba di negara tujuan.
Buah mangga yang paling banyak dicari di pasaran adalah mangga gadung super. Selain ukurannya lebih besar, rasanya juga lebih manis.
Harga buah mangga gadung cukup stabil. Saat musim panen harga di tingkat petani sekitar 10 ribu rupiah per kilogram. Sedangkan saat di luar musim panen, harganya bisa mencapai 20 ribu rupiah per kilogram.
Berkebun mangga bagi para petani di Kecamatan tarokankediri, merupakan salah satu pilihan untuk meningkatkan penghasilan. Dari berkebun mangga, para petani disini dapat meningkatkan taraf hidup, dari daerah tertinggal yang miskin menjadi sentra penghasil buah mangga utama. Untuk keseluruhan wilayah Kabupaten kediri, kini terdapat tidak kurang dari 2 ribu hektar areal perkebunan mangga.(Ijs)
Mangga jenis ini banyak ditanam di wilayah kediri, Jawa Timur. Salah satu sentra perkebunan mangga di Pasuruan terdapat di Kecamatan Rembang, dengan luas areal kebun mangga sekitar 750 hektar.
Jenis mangga yang ditanam disini adalah mangga gadung 21, yang sudah terkenal kemana-mana. Keistimewaan mangga jenis ini, ukuran buahnya besar, dan rasanya sangat manis, sehingga terasa segar bila dimakan.
Salah satu lokasi perkebunan mangga di Kecamatan tarokan terdapat di Desa tarokan. Dari Kota kediri dapat dicapai selama satu jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Perkebunan mangga disini dikelola oleh Kelompok Petani tarokan yang dipimpin oleh Pak msugiono dan Pak Santoso, dengan luas areal kebun mencapai 50 hektar. Saat sedang musim panen seperti sekarang, para petani disini setiap hari sibuk memanen buah mangga.
Sebelum ditanami mangga, Desa tarokanini termasuk daerah tertinggal. Lahan disini termasuk jenis tadah hujan. Saat musim kemarau tanah disini retak-retak sehingga tidak cocok ditanami berbagai jenis tanaman pertanian. Namun, justru di tanah seperti inilah, mangga gadung 21 sangat cocok ditanam. Buah yang dihasilkan lebih manis dibanding mangga jenis lain.
Bibit mangga gadung 21 diperoleh dengan cara disteak dan ditanam di dalam polibeg. Hanya bibit yang berkualitas bagus saja yang ditumbuh kembangkan di dalam green house.
Setelah pohon tumbuh besar, pemeliharaan wajib dilakukan. Pucuk cabang pohon harus rajin dipangkas, sehingga jumlah buah dapat dijaga tidak terlalu banyak.
Tingkat produktivitas pohon mangga disini cukup tinggi. Untuk satu hektar lahan dapat ditanam sekitar 140 pohon, dengan jarak tanam 6 kali 7 meter.
Setiap pohon yang telah berusia diatas sepuluh tahun dapat menghasilkan buah mangga sebanyak satu kwintal.
Karena ditanam di tanah kering, buah mangga gadung hasil perkebunan rakyat disini sangat manis. Untuk membuktikan kemanisan rasa mangga gadung ini, Pak Slamet memotong buah mangga untuk saya nikmati.
Salah satu kendala yang dihadapi petani mangga disini adalah serangan hama lalat buah. Untuk mengatasinya dilakukan penyemprotan sesuai takaran yang diperkenankan. Selain itu juga dibuat perangkap lalat buah.
Pemetikan buah mangga dilakukan dengan cara memanjat pohon. Buah mangga yang telah matang dipetik dan dimasukkan kedalam kantong.
Buah yang telah dipetik lalu dibawa ke tempat pengumpulan. Disini buah mangga dikumpulkan sebelum dikirim ke pasaran.
Untuk pasaran ekspor, buah mangga pilihan di masukkan ke dalam kemasan kertas karton. sehingga kualitas buah tetap terjamin hingga tiba di negara tujuan.
Buah mangga yang paling banyak dicari di pasaran adalah mangga gadung super. Selain ukurannya lebih besar, rasanya juga lebih manis.
Harga buah mangga gadung cukup stabil. Saat musim panen harga di tingkat petani sekitar 10 ribu rupiah per kilogram. Sedangkan saat di luar musim panen, harganya bisa mencapai 20 ribu rupiah per kilogram.
Berkebun mangga bagi para petani di Kecamatan tarokankediri, merupakan salah satu pilihan untuk meningkatkan penghasilan. Dari berkebun mangga, para petani disini dapat meningkatkan taraf hidup, dari daerah tertinggal yang miskin menjadi sentra penghasil buah mangga utama. Untuk keseluruhan wilayah Kabupaten kediri, kini terdapat tidak kurang dari 2 ribu hektar areal perkebunan mangga.(Ijs)


0 komentar:
Posting Komentar